11

Atasi Anak yang Suka Memukul

Pukulan yang dilakukan oleh anak sepintas terkesan wajar. Apalagi saat dalam situasi berontak dan rewel meminta sesuatu. Namun, bila memukul dilakukan terus menerus dan ditujukan pada siapa saja, akan jadi kebiasaan buruk. Sikap yang harus disetop dari sekarang.

Memukul terkadang menjadi ekspresi instan untuk mengungkapkan keinginan. Sebagai implifikasi terbatasnya lisan yang masih terbata-bata, dan juga belum mengenal ekspresi yang lebih sesuai. Memukul juga masuk kategori pemaksaan pada orang yang tertimpa. Semacam teror untuk membuat takut dan timbul rasa sakit, di mana akhirnya lebih memilih mengabulkan segala permintaan anak.

Namun tidak selamanya salah. Sebab kadang memukul dibutuhkan dalam permainan, kegiatan olahraga, atau bentuk perlindungan diri. Maka, penting bagi orang tua membantu anak-anaknya membedakan mana pukulan yang harus dilakukan dan yang mesti dicegah.

Beri pedoman

Beri contoh bagaimana seharusnya anak bersikap. Mungkin anak belum mengetahui bahwa memukul melanggar norma kesopanan bagi lingkungannya. Sikap yang barangkali dalam angannya bisa mewakili semua perasaannya. Padahal tidak sama sekali. Masing-masing ekspresi memiliki makna yang berbeda-beda.

Mau tak mau, orang tua harus memberikan pedoman. Lisan yang disertai praktek secara langsung. Misalnya gemas melihat adik bayi bukan memberikan pukulan, tapi dengan elusan sayang. Meminta mainan tidak dengan memukul orang tua, namun berbicara baik-baik.

Praktek tadi tidak hanya berlaku di rumah dan terbatas pada keluarga saja. Orang tua juga harus menekankan pentingnya mengaplikasikan di luar. Terutama pada teman-teman sebayanya.

Dari hati ke hati

Mengajak bicara memang bukanlah aktivitas yang mudah dan menghasilkan efek positif saat itu juga. Anak mesti berulang kali diingatkan saat ia masih melakukan hal yang sama. Tetapi minimal, anak sudah mengetahui batasan memukul, efek pada dirinya sendiri, pada orang lain, dan dampak yang harus dirasakan ke depan. Misalnya teman-teman jadi menjauh, dan sebagainya.

Memfasilitasi pukulan

Orang tua bisa mengalihkan pukulan anak ke dalam berbagai kegiatan. Termasuk mengenalkan pukulan yang baik di rumah melalui permainan fisik yang sederhana. Contohnya, anak dan orang tua bermain tinju-tinjuan. Orang tua bisa mengingatkan bila pukulan dari anak sudah dirasa menyakitkan. Sehingga anak langsung memahami kadar kekerasan yang boleh dia lakukan. Kelak, bila berada di area luar rumah, anak bisa mengontrol dirinya sendiri. Tidak melayangkan pukulan seenaknya, kepada siapapun jua.

Restitusi

Perubahan harus dimulai sekarang juga. Anak yang terlanjur memukul harus meminta maaf. Namun tidak menempatkan minta maaf sebagai solusi pendek agar masalah selesai. Minta maaf menjadi bentuk pemberdayaan dan perenungan ke anak untuk menyadari kesalahannya. Untuk itu, jangan dipaksa jika belum mau. Minta maaf yang paling baik ialah muncul secara sukarela, bukan diintimidasi atau dipaksa.

Resolusi

Orang tua juga mesti mengajak anak membuat perjanjian. Aturan yang wajib dipenuhi bila pemukulan kembali terjadi. Seperti berjanji tidak mengulangi, lebih memilih bicara sopan pada pengasuh, serta lainnya. Atau terapkan hukuman positif bila anak tak juga jera. (LAF)

 

Foto ilustrasi: Istimewa

Follow Instagram @ETALASEBINTARO

Comments

comments