pegunungan

Asap

Oleh: Oktavia Marie

Banyak cerita yang berawal dari membuka mata, memulai hari, atau sederhananya, bangun tidur. Tapi, ceritaku ini adalah kebalikannya.

Lain dari biasa, kisahku justru bermula saat aku sudah mengantuk dan ingin segera tidur. Setelah mengerjakan PR dan nonton TV sendirian, kantukku baru datang setelah tengah malam.

Seolah ada magnet antarkelopak yang membuatku sangat mengantuk. Anehnya, kelopak mataku seolah tertahan. Mataku mengantuk, tetapi mau tidur, susah sekali rasanya. Ada ganjalan, bukan di mata, jantungku yang melonjak penyebabnya.

Debar-debar jantung ini membuat perasaan tak karuan. Pasti bukan karena kopi, hanya Bapak yang doyan kopi di rumah ini. Pasti juga bukan karena karena aku habis lari-lari atau mendengar cerita seram yang biasanya didongengkan Simbah Mo, tetangga sebelah.

Karena sulit tidur, aku memilih bangun dari tempat tidur. Berjalan ke kamar Bapak dan Ibuk. Mungkin berbaring bersama mereka bisa membuat perasaanku lebih tenang. Kusingkap tirai kamar Bapak-Ibuk. Di sana, Rini, adikku yang berumur 6 tahun, ternyata sudah tertidur lelap diapit Bapak dan Ibuk. Kalau aku bergabung, pasti tidak muat lagi. Ranjang kayu dari glugu (kayu pohon kelapa) itu terlalu sempit untuk kami berempat.

Nyenyak sekali tidur mereka. Pulas. Tampak damai dan tenang, tanpa dengkur.

Kembali aku menguap. Lebih baik, aku kembali ke kamar.

Jaket, mana jaket? Tiap malam, hawa dingin di desaku terasa menusuk tulang. Sejak sore kira-kira jam empat, kabut biasanya muncul. Saat itulah, hawa dingin mulai terasa. Makin malam, udara makin dingin. Hawa dingin ini terus berlanjut sampai subuh. Bahkan, kadang paginya embun-embun membeku dan melekat pada ujung daun. Kelihatannya indah seperti irisan-irisan es batu, tetapi dinginnya minta ampun.

Itu dia! Aku meraih jaket yang tergantung di kursi rotan di ruang makan. Sepertinya aku lupa membawa jaket ke kamar waktu pulang sekolah tadi sore.

Nah, hangat sekarang. Pasti lebih enak untuk tidur. Besok pagi harus berangkat pagi-pagi karena aku kejatahan piket di kelas.

Aku merapatkan jaket dan menggulung selimut membungkus tubuhku, lalu berbaring di atas tempat tidurku sendiri. Mencoba memejamkan mata. Kubiarkan lampu menyala.

Belum lagi lelap, tiba-tiba ranjangku serasa bergoyang. Kupicingkan mata. Ah, mungkin perasaanku saja. Aku kembali mencoba tidur. Goyang lagi. Ranjangku benar-benar bergerak sendiri. Aku bangun terduduk. Sepertinya gempa. Gempa ringan saja.

Beberapa minggu belakangan ini, daerah kami kerap mengalami gempa kecil-kecilan. Lama-lama, kami terbiasa dengan gempa. Jadi, kutunggu selama beberapa saat. Tidak ada gempa lagi. Ya sudah, aku kembali rebah. Gempanya mereda. Nanti juga hilang sendiri gempanya.

Sekali lagi, aku mencoba tidur. Mata kupejamkan, sambil berharap tidak ada gempa-gempa susulan lagi. Selama beberapa saat, aku pun mulai tenang karena rasanya tidak ada gempa lainnya.

Hampir aku terlelap ketika mendengar suara erangan dari kamar seberang, kamar Bapak dan Ibuk. Ah, mungkin mereka menggeliat. Tapi tunggu. Kenapa mereka harus menggeliat dan mengerang bersama? Erangannya juga terdengar lebih panjang, terdengar tak wajar.

Kekhawatiran menyerangku. Bergegas aku bangun dan turun dari tempat tidur. Sakitkah Bapak atau Ibuk, atau justru si Rini asmanya kambuh?

Sebelum langkah kakiku mencapai pintu, ada suara menderu pelan dari luar. Detak jantungku seolah berhenti. Langkahku tersendat. Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa ketakutan setengah mati.

Dari bawah pintu kamarku, kulihat seberkas asap kelabu menerobos masuk. Asap. Bukan kabut. Bukan seperti kabut putih yang menyebar pelan dan membuat suasana sendu. Ini asap, geraknya lebih cepat.

Asap? Apakah api belum dimatikan, sampai-sampai asap tungku dari dapur masuk kamarku? Tapi setahuku, sepanjang sore Ibuk tidak masak karena membantu hajatan di rumah Pak RT. Bapak juga sudah berhenti merokok, jadi tidak mungkin ada asap. Lalu ini asap apa?

Asap kelabu itu terus bergerak. Mendekatiku.

Jantungku berdebar.

Aku mundur selangkah demi selangkah.

Asap kelabu semakin maju ke arahku, semakin dekat.

Pada dinding, aku merapat. Tercekat. Perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.

Asap itu terus bergerak, hampir memenuhi seluruh ruangan, mengepungku.

Aku menggapai-gapai kiri-kanan dinding, ingin lari. Tapi ke mana? Ke mana?

Asap itu merayap, naik dari ujung kakiku, lanjut ke paha, dada, dan kepalaku.

Leherku serasa tercekik. Dadaku seolah ditimpa ribuan batu.

Napasku patah-patah.

Kepalaku berputar.

Pandanganku mulai mengabur.

Lalu gelap.

Gelap.

Gelap.

Hitam pekat, melekat.

Kusadari, inilah akhir riwayat.

Jadi, begitulah awal ceritaku sebenarnya. Mau dengar ceritaku selanjutnya?

***

Headline berita di media massa dan media internet keesokan harinya:

“Gas Beracun di Dataran Tinggi Dieng Tewaskan 254 jiwa.”

Bintaro, September minggu kedua

 Ilustrasi: Etalase Bintaro/YonK

Comments

comments